Fundamental Emas
Peranan dan fungsi emas beberapa ratus tahun lalu, dibandingkan dengan peranan dan fungsi emas dewasa ini, sebenarnya tidaklah banyak berubah. Perubahan mendasar yang terjadi saat ini adalah bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk memiliki emas atau bertransaksi emas, terutama sekali setelah munculnya media transaksi on-line.
Pesatnya perkembangan media elektronik, membuat para investor tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan informasi mengenai pergerakan harga komoditas, khususnya harga emas. Tidak hanya itu, kecenderungan pergerakan harga emas bisa diperoleh dengan mudah melalui situs-situs internet yang memberikan analisa fundamental dan teknikal. Demikian pula media cetak dan televisi, tidak kalah gencar dalam menginformasikan ulasan-ulasan mengenai emas.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa emas kini menjadi investasi alternatif yang sangat menjanjikan karena beberapa alasan seperti:
- Sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan melemahnya dollar.
- Tempat yang aman pada saat terjadi ketidakpastian geopolitik, ekonomi dan pasar keuangan.
- Sebagai penyimpan nilai.
- Sebagai alat diversifikasi portofolio.
Sejak kebanyakan negara di dunia membiarkan mata uang mereka bebas bergerak pada tahun 1973, sejak itu pula emas secara perlahan tetapi pasti, bergerak naik dari level $ 35 per troy ounce yang ditetapkan pada tahun 1971, hingga mencapai $ 850 pada bulan Januari 1980. Pada bulan Agustus 1999, harga emas sempat bergerak turun hingga mencapai level $ 251.70, ditengah kekhawatiran bahwa para bank sentral mengurangi cadangan emas batangan dan perusahaan tambang menjual emas di pasar forward untuk melindungi posisi mereka dari penurunan harga.
Pada bulan November 2005, untuk pertama kalinya sejak Desember 1987, emas spot menembus level $ 500, saat menyentuh harga $ 502.97. Sejak itu, harga emas terus bergerak naik sehingga untuk pertama kalinya, yaitu pada tanggal 13 Maret 2008, kontrak transaksi emas diperdagangkan lebih dari $ 1.000 per ounce di pasar berjangka AS.
Selanjutnya karena kekhawatiran terhadap resesi ekonomi global, isyu diversifikasi yang dilakukan para bank sentral atas cadangan devisa mereka ke dalam emas, melemahnya dollar secara global karena Amerika dikhawatirkan tidak bisa mempertahankan proses pemulihan ekonomi, serta krisis utang yang melanda negara zona Euro, membuat harga emas terus melambung tinggi hingga mencatat rekor harga tertinggi sepanjang masa di $1,920.50 per ounce, pada tanggal 6 September 2011.
Aksi profit taking yang dilakukan para pelaku pasar global untuk menutupi kerugian investasi mereka pada instrumen aset lainnya serta berkurangnya status emas sebagai aset aman (safe-haven asset), akhirnya memaksa emas bergerak turun dari level tertinggi di $ 1,920.50 hingga mencapai level terendahnya di $ 1,522.50 pada tanggal 29 Desember 2011.
Mengawali perdagangan di tahun 2012, emas terlihat terus bergerak positif, setelah mendapat dukungan dari pembelian emas fisik oleh investor China serta pembelian investasi yang dilakukan berapa pengelola dana. Kebijakan the Fed untuk mempertahankan suku bunga rendah, setidaknya sampai akhir tahun 2014, meningkatkan sentimen terhadap emas. Pada akhir bulan Januari 2012, emas ditutup pada harga $ 1,741.10, menguat sekitar 11.4 % atau penguatan bulanan terbesar sejak kolaps-nya Lehman Brothers.
Dari ulasan di atas, terlihat bahwa volatilitas harga emas dalam beberapa tahun terakhir agak miningkat dikarenakan semakin meningkatnya minat investor terhadap emas fisik maupun emas berjangka. Adanya indikasi bahwa semakin banyak bank sentral di dunia yang mulai mengalihkan sebagian dari cadangan devisa mereka ke dalam emas, mengisyaratkan bahwa permintaan terhadap emas masih sangat tinggi dan tentu saja berpeluang mendorong harga emas lebih tinggi lagi.
Level harga $ 2,000, $ 2.500 atau bahkan $ 5.000 per ounce, bukannya tidak mungkin akan dicapai dalam beberapa tahun mendatang. Pernyataan the Fed bahwa bank sentral berjanji untuk tetap mempertahankan kebijakan suku bunga mendekati nol persen, setidaknya sampai akhir tahun 2014, meningkatkan spekulasi bahwa the Fed berpeluang untuk melakukan pelonggarakan kuantitatif tahap ke tiga (QE3) untuk memulihkan perekonomian Amerika. Pernyataan tersebut menguntungkan emas, karena potensi emas untuk bergerak naik sebagai akibat dari melemahnya dollar, menjadi semakin terbuka.
Pernyataan the Fed, membengkaknya defisit anggaran pemerintah AS, ketidakpastian ekonomi global, belum adanya tanda-tanda Eropa akan keluar dari krisis utang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, menjadi faktor yang berpotensi mengangkat harga emas. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menjadikan emas sebagai salah satu investasi alternatif, selain karena berpotensi memberikan keuntungan, juga karena dapat melindungi aset kita dari gejolak pasar global.



